Cerita Dibalik Strategi Kebangkitan Xiaomi

Tahun 2016 merupakan tahun yang buruk bagi Xiaomi, perusahaan teknologi asal Tiongkok tersebut mengalami kejatuhan. Tahun itu, Xiaomi terjun bebas dari peringkat pertama ke peringkat kelima sebagai produsen smartphone Tiongkok. Analis mengatakan tidak ada perusahaan yang pernah bangkit dari kejatuhan yang dialami perusahaan tersebut.

Namun, kini Xiaomi dijuluki sebagai “Chinese Phoenix” merujuk dari keberhasilan perusahaan bangkit dari kejatuhan tahun lalu, analis strategi mengungkapkan bahwa Xiaomi berpotensi mengalahkan OPPO, Huawei dan bahkan Apple pada tahun depan sebagai vendor smartphone kedua terbesar di dunia, dibelakang Samsung. Manajemen pun dikabarkan mempersiapkan langkah penawaran saham perdana di tahun 2018, yang mana dapat meningkatkan nilai perusahaan pada nilai tertinggi.

Lei Jun Strategi Kebangkitan Xiaomi

Lei Jun dibalik Strategi Kebangkitan Xiaomi

Cerita mengenai Kebangkitan Xiaomi merupakan tolak ukur betapa dinamisnya dunia entrepreneur di Tiongkok. di Tiongkok, lebih dari 10 ribu perusahaan rintisan atau startup dibuka-artinya ada tujuh perusahaan baru dibuka setiap menitnya-. Tiongkok saat ini bukan lagi negara peniru, yang hanya mampu menciptakan produk kelas tiga. Saat ini negeri tirai bambu tersebut memimpin sejumlah sektor teknologi seperti Mobile Payments dan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan. Xiaomi merupakan salah satu contoh terbaik dari semangat tersebut.

Faktor apa yang mempengaruhi titik balik Xiaomi? apakah kebangkitan Xiaomi akan bertahan lama, atau akan jatuh seiring tekanan dalam bisnis ponsel? Dan bisakah Xiaomi mencapai apa yang belum bisa dicapai oleh produsen smartphone Tiongkok – mengalahkan pasar Amerika Serikat?

Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, kita harus kembali kejatuhan Xiaomi pada 2015 – 2016, dimana penjualan smartphone Xiaomi terjun bebas, dari setahun sebelumnya 70 juta penjualan smartphone, hingga hanya 41 juta penjualan pada tahun 2016. Lei jun, Pendiri Xiaomi disalahkan atas permasalahan suplai bahan baku yang tidak dapat mengimbangi pertumbuhan perusahaan. Hal ini memaksa Xiaomi untuk mundur dari beberapa pasar luar negeri, termasuk Brazil dan Indonesia. Perusahaan dilanda permasalahan internal, yang mendorong perusahaan untukmelakukan restrukturisasi pada divisi Smartphone Hardware, Research and Development, Supply Chain, and tim manajemen yang solid. Tapi sumber permasalahan perusahaan asal Tiongkok itu terletak pada ketergantungan penjualan ekslusif melalui online, hal ini mengakibatkan Xiaomi tidak bisa menjangkau jutaan calon pembeli yang berada pada kota-kota kecil dan pedesaan di Tiongkok. Rival mereka, OPPO dan Vivo berhasil memanfaatkan hal tersebut dengan bekerja sama dengan retail lokal pada tempat-tempat tersebut.

Seperti banyak bisnis pada era internet saat ini, Xiaomi awalnya bergantung pada dua model bisnis yakni menjual produk hardware -Smartphone dan Smart TV-, dan Online Service. Penjualan terbesar perusahaan berasal dari penjualan smartphone dan smart TV, yang dimana untuk mendukung bisnis online Service mereka. Penjualan smartphone dan smart TV hanya memberikan keuntungan yang tipis bagi perusahaan, jadi keuntungan terbesar perusahaan berasal dari Online Service mereka yang meliputi tayangan film dan acara tv berlangganan, games dan lainnya. Xiaomi bahkan menyediakan layanan Financial technology yang menyediakan pinjaman uang bagi pengguna Xiaomi di Tiongkok dengan bantuan mesin Artificial Intelligence untuk mengkalkulasi kelayakan calon penerima pinjaman.

Strategi Kebangkitan Xiaomi : Ciptakan Ekosistem

Manajemen perusahaan Xiaomi memutuskan mereka membutuhkan kaki ketiga dalam model bisnis mereka, yakni Toko Retail.Namun, Xiaomi menginginkan toko retail lebih dari sekedar menjual smartphone untuk meningkatkan hubungan yang berkelanjutan dengan customer mereka. Solusi mereka adalah dengan menciptakan sebuah ekosistem dari lebih perusahaan startup-Umumnya produk rumah tangga yang terhubung dengan internet dan produk teknologi lainnya- sebagai partner mereka dengan menyertakan layanan Xiaomi dalam produk mereka dan hal menjadikannya sebagai katalog layanan Xiaomi.

Wang Xiang, Senior Vice President Xiaomi, menjelaskan betapa strategi ekosistem mereka mendorong pertumbuhan penjualan. “Membeli ponsel atau televisi kegiatan yang tidak sering terjadi bagi setiap orang. Berapa kali kalian harus pergi ketoko?” terangnya.

“Tapi bagaimana jika kalian membutuhkan speaker bluetooth, atau sebuah Air Purifier yang terjangkau di Tiongkok -yang mana tidak hanya memiliki kualitas terbaik di kelasnya, tetapi juga harganya lebih murah dibanding produk yang telah ada?- Ekosistem kami bahkan memberikan konsumen produk-produk baru yang tidak biasa yang sebelumnya bahkan tidak diketahui telah ada. Jadi mereka terus menggunakan Xiaomi Mi Home Store untuk melihat apa yang kami punya” terang Wang.

Wang menjelaskan strategi ini bertujuan untuk mengurangi “Pain Points” bagi konsumen mereka di Tiongkok. Dirinya menjelaskan tentang polusi udara, sebuah masalah serius di Tiongkok. Pemurni Udara atau Air Purifier yang berkualitas di pasar Tiongkok dihargai $500. Xiaomi lantas memberikan dukungan dana pada startup yang fokus pada pengembangan produk air purifier, memberikan bantuan dalam hal desain dan pembuatan, akses pada suplay bahan baku,dan bimbingan dalam menjalankan perusahaan yang efisien. Hasilnya, Mi Air Purifier 2, yang dijual cuma $105. Mi Air Purifier 2 terhubung dengan smartphone Xiaomi yang memungkinkan pengguna untuk me-monitor kualitas udara di rumah mereka dan mendapatkan notifikasi ketika saatnya mengganti filter.

Produk tersebut sukses di pasaran. “Dalam dua bulan kami menjadi pemuncak penjualan Air Purifier di Tiongkok, dan hal itu merupakan bagaimana kami menyelesaikan “Pain Point” dalam produk Air Purifier.” klaim Wang.

strategi kebangkitan xiaomi

Fitness Bands Xiaomi | Pixabay.com

Xiaomi melakukan pendekatan yang sama dengan produk Wearable Device mereka, Fitness Bands. Desain produk tipis dengan daya tahan baterai hingga 60 hari merupakan cara mereka menyelesaikan “Pain Point” dari keharusan mengisi ulang baterai bands setiap beberapa hari. Xiaomi kini merupakan pemimpin pasar global dalam penjualan Fitness Bands, mengungguli Fitbit dan Apple. Ditto merupakan Power Bank Xiaomi yang mampu mengisi ulang baterai smartphone lebih baik dan juga lebih murah daripada produk pesaing mereka, Xiaomi juga merupakan pemimpin pasar dalam kategori ini.

Semua produk dalam ekosistem mereka, dari bantal hingga pemurni udara, dan dari penanak nasi hingga Speaker Bluetooth Portable, ditujukan untuk menyelesaikan permasalahan konsumen. Harga produk yang terjangkau, namun tidak di desain dan dirakit secara asal. Mereka telah menerima setidaknya 100 International Design Awards.

Strategi mereka tak lepas dari kritik.”Saat kami memulai model bisnis ini, banyak pihak yang mengatakan kami perusahaan yang tidak memiliki fokus,”wang menjelaskan. “Mereka mengatakan kami seperti supermarket atau department store -karena kami menjual berbagai macam barang dan tidak memiliki fokus produk-,” lanjut Wang.

Namun, hal tersebut terbantahkan dengan angka penjualan Xiaomi. Analis mengungkapkan Angka Penjualan produk smartphone Xiaomi melonjak 91 persen pada kuarter ketiga di tahun 2017.

Mi Mix Phone merupakan salah satu yang membantu peningkatan penjualan Xiaomi, merupakan ponsel Bezel-Less pertama di dunia yang dirilis pada Oktober 2016 silam. Shou Zi, Chief Financial Officer Xiaomi menerangkan tantangan yang mereka hadapi dalam menciptakan Mi Mix.

“untuk menyingkirkan sisi atas smartphone dan menggantinya dengan layar tanpa sisi, hal pertama yang kami lakukan adalah mengubah letak speaker,” terang Shou Zi. “Untuk melakukan hal tersebut, kami meletakan sepotong keramik dibelakang panel Touchscreen yang berguna untuk penghantar gelombang suara ke telinga pengguna.”

Produk Xiaomi yang menyelesaikan permasalahan pengguna turut menumbuhkan fan base mereka baik di Tiongkok sendiri maupun di luar negeri. MIUI merupakan user interface khas smartphone Xiaomi telah digunakan lebih dari 300 juta pengguna aktif.

Xiaomi juga mengajak pengguna untuk memberikan saran mengenai fitur terbaru dan membuat voting mingguan untuk dimasukan dalam ekosistem aplikasi mereka. Setiap Jumat pukul 05.00 PM waktu Beijing, Xiaomi mengirimkan update MIUI yang mengangkut aplikasi terbaru dari hasil voting pengguna.

The Xiaomi Way

Shou menceritakan satu kasus pada tahun lalu saat seorang pengguna mengatakan bahwa dirinya sangat mabuk pada suatu malam dan dirinya tidak dapat menemukan aplikasi flashlight pada smartphone miliknya. Dirinya menanyakan bisakah bahwa tombol aplikasi tersebut dipindahkan dengan menekan sensor fingerprint, dan kini hal tersebut merupakan fitur dari MIUI. Hal ini membuat pengguna merasa terhubung dengan perusahaan dan menumbuhkan loyalitas di kalangan pengguna.

Disamping strategi kebangkitan Xiaomi yang menuai kesuksesan, para pengamat memberi perhatian mengenai kelangsungan strategi perusahaan yang mengambil laba tipis dalam penjualan produk akan relevan dalam jangka panjang mengingat kompetisi melawan perusahaan dalam negeri maupun dalam kompetisi global yang agresif.

Analis Venture Capitalist mengatakan Xiaomi berada pada jalur yang benar. Namun, mereka harus memikirkan bagaimana cara mendapatkan profit. Kemudian mengenai pemerintah Tiongkok yang turut serta dalam manajemen dengan kepemilikan saham minoritas, yang diyakini sebagai cara pemerintah mengontrol perusahaan agar sejalan dengan program pemerintah.

Wang sendiri mengakui bahwa perusahaan sedang mengalami banyak tantangan. Diantara yang paling menonjol adalah rencana ekspansi global, terutama untuk masuk pasar Amerika Serikat, yang menurut Wang akan terjadi pada 2019 mendatang.

Wang menyadari bahwa konsumen di Amerika Serikat memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap pelayanan, dan mayoritas ponsel yang dijual di Amerika saat ini dijual melalui provider telekomunikasi, hal yang belum pernah dilakukan Xiaomi sebelumnya. Hal ini merupakan tantangan bagi Xiaomi,karena tiap perusahaan telekomunikasi memiliki persyaratan yang berbeda agar sebuah perangkat gawai dapat bekerja di jaringan mereka.Oleh karenanya, Wang akan mencoba pada salah satu perusahaan telekomunikasi sebagai percobaan awal.

Namun, sebelum memasuki pasar Amerika Serikat, Xiaomi akan memasuki pasar Eropa Barat, yang terbaru mereka merilis produk mereka di Spanyol. Agar sukses melakukan ekspansi global, Xiaomi harus mengamankan hak paten global terhadapt komponen dan teknologi yang mereka gunakan. Tanpa hal ini, Xiaomi akan mengalami beragam masalah pelanggaran hak cipta dan dapat mengakibatkan produk mereka dilarang memasuki pasar di berbagai negara.

Saat ini Xiaomi dikabarkan telah mengumpulkan portofolio paten sebanyak 5.700 paten yang sebagian dihasilkan melalui internal perusahaan dan sisanya lewat proses akusisi perusahaan seperti Microsoft dan Nokia.

Saat ini Xiaomi telah hadir di lebih 60 negara, termasuk Indonesia yang sempat ditinggalkan. Xiaomi telah menginvestasikan $4 Miliar di eksosistem mereka di Tiongkok, dan memberikan investasi senilai $1 Miliar untuk pengembangan startup di India,yang merupakan pasar terbesar Xiaomi diluar Tiongkok. Xiaomi juga mengumumkan kemitraan strategi dengan raksasa mesin pencarian Tiongkok, Baidu untuk pengembangan Artificial Intelligence untuk pasar Internet of Things. Dan berencana untuk memperluas jangkauan ritel Mi Home di dalam maupun luar negeri pada 2019 mendatang.

Menarik untuk ditunggu strategi Kebangkitan Xiaomi selanjutnya.

sumber artikel : wired.com

sumber gambar : pixabay.com

Cerita Dibalik Strategi Kebangkitan Xiaomi | Catur Ariadi | 4.5